BLOGGER TEMPLATES AND MyYearBook Layouts »

Kamis, 02 Juni 2011

BIOGRAFI SINGKAT RABI’AH AL-ADAWIYAH (717-801M)


Rabi’ah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah yang artinya “empat”, tak lain Karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu. Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan memperoleh anak laki-laki di sebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan khadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki  bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
            Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitupun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci unutuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
            Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik. Namun begitu, sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) denagan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin abad ini), Ibnu khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam kehidupan Para Orang Saleh), dari Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memori Para Wali).
            Dari sekian banyaknya biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Auliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya dianggap sebagai buku biografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan lahir ditengah keluarga yang sangat  miskin itu (tapi ada yang menyebutkan keluarga Rabi’ah sebenarnya termasuk keturunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margareth Smithy dalam bukunya Rabi’ah the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah disertasi, terbitan Cambridge University Press London 1928), antara lain banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
            Diceritakan, sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, dirumahnya sama sekali tidak ada minyak sebagai bahan untuk penerangan, termasuk  kain pembungkus untuk bayi Rabi’ah. Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji unutuk tidak meminta bantuan pada sesame manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui putrid keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi di datangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut 7.000 umatku.”
            Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
            Syah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia mengahadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidakklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaanya dengan janggutku.”
            Aththar juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah. Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan saudara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
            Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan seorang anak laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik Rabi’ah dan menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada seorang laki-laki. Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan kemudian jatuh terpeleset. Mukianya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah engkau Ridla terhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari perhitingan nanti derajatmu akan sama dengan orang-orang yang terdekat dengan Allah di dalam surga.”
            Setelah itu Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaanya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu, ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.
            Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya Rabi’ah berdo’a, “Ya tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak apadaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala Rabi’ah masih khusyu’ beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya rahmat tuhan) dari seorang Muslimah suci.
            Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ketempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
            Dalam pengembaraanya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani seekor keledai sebagai pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai, keledai itu tiba-tiba mati ditengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan serombongan kafilah dan mereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan barang-barang miliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan tak ingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.

AKAL


“Pemuda punya akal, hidup di dalamya, menjadi petunjuk”
(Sya’ir Al-Thabari)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami9 dari siksa neraka. (qs. Ali Imron : 190-191)

            Perlu kita ketahui bahwa akal adalah syarat agar seseorang bisa memahami sesuatu, sehingga membuat amalan menjadi baik dan sempurna. Seseorang yang tidak memiliki akal adalah keadaan yang serba penuh kekurangan. Setiap perkataan yang menyelisihi akal adalah perkataan yang batil.

            Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidak bisa berdiri sendiri. Akal berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya.

            Akal juga digunakan sebagai petunjuk ummat manusia untuk membedakan mana yang benar dan salah. Sebab akal adalah bagian yang penting dalam diri manusia yang bisa membedakan antara dia dengan makhluk Allah lainnya. Kemampuan akal bisa menghantarkan manusia kepada Allah. Begitu pula sebaliknya, akal juga bisa menjatuhkan kualitas iman seseorang dihadapan Allah SWT.

            Jika manusia tanpa petunjuk apa yang akan terjadi? Atau, bisakah manusia dibiarkan begitu saja dengan akalnya sendiri?
            Yang terjadi adalah kerancuan akal atau “akal bebas”. Apabila yang dimaksud “akal yang membebaskan”, maka kerancuan ini semakin menjadi-jadi, karena akal-lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang tidak bebas.
            Contoh hal yang sering kita jumpai,  seekor sapi bisa buang hajat dimana saja, termasuk di kandangnya sendiri, karena akalnya tidak mencegahnya dari perbuatan yang demikian. Perbedaannya dengan manusia yaitu karena akalnya manusia, membuat sebuah ruangan khusus untuk buang hajat, melakukan istinja’ untuk membersihkan dirinya, menggunakan sabun untuk menghilangkan kotoran, menyiram jamban hingga bersih, bahkan kemudian membersihkan ruangan tempat buang hajat tersebut secara berkala.
            Apabila “akal bebas” diartikan bebas dari segala aturan, maka ia pun masih sangat rancu. Bagaimana pun manusia dalam kehidupannya dan segala sesuatu di alam semesta ini, terikat oleh sebuah aturan yang dibuat oleh Allah sang Pencipta.
            Ada yang benar-benar yakin bahwa akal adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi, mereka lupa bahwa selain akal, manusia juga bisa dikuasai oleh hawa nafsunya.
            Jika kita teliti, maka kita akan menyadari bahwa penyebutan “akal sehat” bersambungan pada “akal yang tidak sehat”. Benar sekali, memang tidak semua manusia bisa menggunakan akalnya dengan baik. Karena itu, ada hal lain lagi yang dibutuhkan oleh manusia selain akal, yaitu : petunjuk.
            Hal itu pula yang terjadi pada bangsa yang pernah besar di Amerika Selatan yang mengorbankan manusia sebagai bentuk pemujaan terhadap dewanya. Masalah yang sama juga terjadi pada orang-orang di negara maju yang jarang mandi dan hanya membersihkan diri dengan selembar tisu setelah buang air besar, dan masih banyak kejadian yang lain yang menurut saya sangatlah miris (tidak wajar).
Masalah mereka semuanya sama : sama-sama tidak mendapat petunjuk!
            Mereka semua adalah manusia. Sama-sama memiliki hawa nafsu, sama-sama memiliki akal, dan sebenarnya juga cukup cerdas, dan jelas jauh lebih cerdas daripada binatang. Jelas,  bahwa segala keunggulan manusia tidak berarti apa-apa jika ia tidak mendapatkan petunjuk. Kalau bukan karena petunjuk dari Allah SWT, barangkali kita pun akan seperti mereka, atau bahkan lebih buruk dari itu. Na’uudzubillahi min dzaalik.

مبدأ التربية الاسلامية من خلال سورة العمران أية 18-19



الأية الكريمة:

شَهِدَ اللهُ اَنَّهُ لآاِلَهَ اِلاَّهُوَ وَالْمَلاَ ئِكَة وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَ إِلَهَ إِلاَّهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيم .

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلاَمُ وَمَااخْتَلَفَ الَّذِ يْنَ اُتُوا الْكِتَابَ إِلاَّمِنْ بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِئَا يَاتِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ .

تفسيرالأية الكريمة:

شهدالله (وإن لم يشهد أحد غيره),  أنه لااله هو والملائكة ( يشهدون بذلك), وألوالعلم (والنبيون والمؤمنون يشهدون بذلك),  قائما بالقسط (يعني الله قائماً بالعَدْل على كل نفس), لاله الا هو العزيز (بالنقمة لمن لا يؤمن به), الحكيم (أمر أن لا يعبد غيره) .

انّ الدّين (المرضي وهو التوحيد والتدرع بالشرع الذي جاء به محمد صلى الله عليه وسلم),  عندالله الاسلام (ويقال شهد الله أن الدين عند الله الإسلام مقدم ومؤخر وشهد بذلك الملائكة والنبيون والمؤمنون . نزلت هذه الآية في رجلين من أهل الشام طلبا من النبي صلى الله عليه وسلم أي شهادة أكبر في كتاب الله فبين الله ذلك فأسلما), ومااختلف اللذين أوتوالكتاب (أعطوا الكتاب يعني اليهود والنصارى في الإسلام ومحمد أو من أرباب الكتب المتقدمة في دين الإِسلام),  الا من بعدما جاؤهم العلم (بيان ما في كتابهم)
بغيا بينهم (حسداً بينهم وطلباً للرئاسة ، لا لشبهة وخفاء في الأمر), ومن يكفر بأيت الله (بمحمد والقرآن), فإنّ الله سريع الحساب (شديد العقاب ثم ذكر خصومتهم مع النبي صلى الله عليه وسلم في دين الإسلام و وعيد لمن كفر منهم)


شرح الأية:

ما تشير من هاتين الآيتين أن بُعْد التوحيد فى الاسلام جوهرالمبدأ الحياة للمسلم وأهمية منزلة العلماء أو أولواالعلم بالنسبة للاسلام ودورهم فى بناء الثقافة الاسلامية من ناحية, وظلال الأمة الذين لايتبعون سيرالاسلام من ناحية أخرى. وهو أساس النجاة فى الدنيا أم فى الأخرة, فى الأجل أم فى العجل على حد سَوَأ. ومن أبرازمحتويات التى يتضمن هاتين الأيتين سر مبدأ التربية الصحيحة السليمة لأجيال المسلمين عبرالعصور من حيث العقيدة أولأ قبل كل شئ من نواحى مبدأ التربية الاسلامية الأخرى. أن التربية الصحيحة فى منظورالاسلامي القائمة على أساس المنهج أو المبدأ الاسلامى, المستمدة من الأصول, المستفدة من غيره دون الاءخلال بأصول, هى التى تبنى الانسان العامل, هى الذى يبنى نفسه من خلال تغيرها, و يبنى المجتمع من خلال تغيره, ويعبر الحاضر الى المستقبل, ويعيده لللأمة اشراقها وتأثيرها الانسانى فى العالم.

كما نستطيع أن ننظر بعين اعتبار فى تراث المسلمين أن تطبيق هذا المبدأ قد بدأه الرسول ص.م . بتكوين العقيدة قبل نزول الأحكم الشرعية التفصيلية. كما طوال عهده فى مكة على غرس مبادئ العقيدة فى نفوس أصحابه وذلك بهدم العقائد الباطلة وتطهير العقول والقلوب منها أولا, ثم بغرس العقيدة الصحيحة فى نفوسهم, ومن ثم العمل على زيادة ايمانهم بالوسائل المختلفة. وفى ضوء هذا سر المبدأ التربوية كَوَّن الرسول رجالا عظاما تكوّنت منهم أمة قوية استطعت أن تطبق النظام الاسلامى بأصنع وجوهه.

من تللك العبرة وجب على كل المربين فى عملية تعلمهم أن يتركز على جوانب العقيدة المؤثرة قبل أن يدخل فى شتى المواد الذى سيدرسه أمام الطلاب أو الطالبات,وذلك لكى لا يصيبون أزمة الايمان أو مشكلة الايمان فى نفوسهم , وابعادهم عن روح الاءالحاد الذى هدمه الدين من أساسه. وأهم تللك الجوانب بيان الصفات التى تصوره الله فى حالة قريبة من الانسان بحيث يراه ويراعاه. منها: الايمان بالله باعتبار أنه خالق الكون والانسان, والايمان بالحياة الأخرة وأنها هى الحياة السعيدة - بمعنى الكلمة-, والايمان بأن القوانين التشريعة التى أنزلها الله صادرة عن ارادة الهية لتنظيم حياة الانسان على أكمل وجه, وغيرها من سائر العقيدة التى تتعلق بالتصور الاسلامى للانسان والكون والحياة – وللمرتبطة بالموقف الحضارى للأمة المسلمة.

واذا كانت بعض العلوم كالكمياء والفيزياء والفلق والطب والهندسة وغيرها من العلوم والفنون ارثا انسانيا مشتركا ساهمت فى ايجادها وتطويرها المجتمعات المختلفة وبامكان كل مجتمع أن يستفيد من تطبيقاتها دون حراج, فاءن المسلم لايملك أن يتلقى فى علوم أخرى تختص بحقائق العقيدة, أو التصور العام للوجود, أو بالخُلق و السلوك والقيم, أو تختص باالمبادئ والأصول فى النظام السياسي أو الاجتماعي أو القتصادى, الا من ذلك المصدر الرباني المرتبط بالعقيدة المطبق لتعاليم القرأن و السنة المطهرة. كما أن حقيقة الاسلام كانت هى القوة الكامنة وراء أفكار المربين المسلمين ممثلا من القيرونى والغزالى وابن خلدون و ابن حجر الهيثمي وغيرهم, كلهم نهلوا من معين الاسلام وصدروا عنه.

وعليه فكل نهضة اسلامية تحتاج الى جيل مسلم أُعدّ اعدادا تربويا خصا على المبادئ ذاتها التى قررها رب العزة وبيناها كتابه الكريم وطبقها رسوله الأمين ص.م. وتعلمها بالتوجيه والقدوة الجيل الاسلامى الأول.

والله أعلم بمراده
والله الموفيق.

مصادر التفسير
 تفسير الطبرى ,  تفسير البغوى ,  تفسير فتح القدر للشوكانى ,  تفسير المنسوب لابن عباس ,  تفسير للسمرقندي ,  نقل هذا الكتب جميعا من مجموعة المكتبة الشاملة.

VALIDITAS TEST


Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Untuk dapat menentukan apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas atau daya ketepatan mengukur.
  1. Macam-MacamValiditas
a.       Validitas Logis
  1. Cara Mengetahui Validitas Alat Ukur
  2. Validitas Butir Soal atau Validitas Item
  3. Tes Terstandart sebagai Kriterium dalam Menentukan Validitas
  4. Validitas Faktor
A.    TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS TES HASIL BELAJAR
Penganalisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu totalitas dapat di lakukan dengan dua cara :
1.      Validitas Logis
      Adalah validitas yang diperoleh dengan berpikir logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional, apabila setelah melakukan analisa secara rasional ternyata tes hasil belajar memang (secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur. Untuk menentukan sudah memiliki tes validitas rasional atau belum, dilakukan dari dua segi :
a.      Validitas Isi (Content Validity)
            Adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Dan validitas ini yang ditilik dari segi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar  yaitu : sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representative terhadap keseluruhan materi atau bahkan pelajaran yang seharusnya di tes kan (diujikan).

            Validitas isi identik dengan pembicaraan tentang populasi dan sampel. Upaya lain yang dapat ditempuh dalam rangka mengetahui validitas isi dari tes hasil belajar adalah dengan jalan menyelenggarakan diskusi panel. Hasil-hasil diskusi itu selanjutnya dijadikan pedoman atau bahkan acuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan isi atau materi tes hasil belajar tersebut. Jadi kegiatan menganalisa validitas isi dapat dilakukan baik sesudah maupun sebelum tes hasil belajar dilaksanakan.

b.      Validitas Kontruksi (Construct Validity)
            Adalah validitas yang ditilik dari segi susunan atau kerangka. Tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas susunan apabila butir-butir soal atau item yang membangun tes tersebut benar-benar telah dapat dengan secara tepat mengukur aspek-aspek berfikir (seperti: aspek kognitif, aspek efektif, aspek psikomotorik dan sebagainya.)

            Validitas tes hasil belajar dapat dilakukan penganalisisannya dengan jalan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Validitas konstruksi dapat dilakukan dengan jalan menyelenggarakan diskusi panel, baik sesudah maupun sebelum tes hasil belajar dilaksanakan.

2.      Validitas Empiris
      Adalah validitas yang bersumber pada atau diperoleh atas dasar pengamatan di lapangan. Tes hasil belajar dapat dikatan memiliki validitas empiric apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan di lapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya di ungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut. Untuk menentukan sudah memiliki tes validitas empirik atau belum, dilakukan dari dua segi :
a.      Validitas Ramalan (Predictive Validity)
            Adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang terjadi pada masa mendatang. Contohnya pada suatu tes seleksi penerimaan calon mahasiswa baru pada sebuah perguruan tinggi, inilah yang menunjukkan suatu tes yang diharapkan mampu meramalkan keberhasilan studi para calon mahasiswa dalam mengikuti program pendidikan di perguruan tinggi tersebut pada masa-masa yang akan datang.

            Untuk mengetahui apakah suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang memiliki validitas ramalan atau belum, dapat ditempuh dengan cara mencari korelasi antara hasil tes belajar yang sedang di uji validitas ramalannya dengan kriterium yang ada. Jika hasilnya korelasi positif yang signifikan maka tes belajar tersebut dapat dinyatakan telah memiliki validitas ramalan yang tepat. Artinya, Apa yang telah diramalkan, betul-betul telah terjadi secara nyata dalam praktek.
Mencari korelasi antara tes hasil belajar yang sedang  di uji validitasnya dengan cara menerapkan Teknik Analisis Korensional Product Moment dari Karl Pearson (Korelasi Product Moment: yang perlu diperhatikan dalam analisis korelasi Product Moment adalah nilai r yang diperoleh, apakah nilai r-nya negatif atau posistif, jika r-nya negatif maka korelasi yang diperoleh adalah korelasi negatif (peningkatan pada variabel X akan diikuti penurunan pada variabel Y dan penurunan pada variabel X akan diikuti kenaikan pada Variabel Y). Kemudian lihat berapa p-nya, apa harga p yang diperoleh memenuhi taraf signifkansi yang digunakan (taraf signifikasi yang digunakan biasanya p 1% dan p 5%), jika harga p signifikan berarti terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Langkah selanjutnya adalah melihat nilai r2 untuk mengetahui sumbangan efektif   penelitian.
           
b.      Validitas Bandingan (Concurrent Validity)
                  Dikatakan sebagai validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah, antara tes pertama dengan tes berikutnya. Validitas bandingan juga disebut denga istilah : validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas ada sekarang. Dikatan sama saat, sebab validitas tes itu ditentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaanya dilakukan pada kurun waktu yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang diperoleh. Dan dikatakan validitas ada sekarang  sebab jika kita menyebut istilah pengalaman, maka istilah itu akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah terjadi pada masa lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa lalu itu pada saat sekarang ini sudah ada di tangan.

      Jika hasil tes yang ada sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasar pengalaman masa lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu dinyatakan telah memiliki validitas bandingan.

      Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang searah antara tes pertama dengan tes berikutnya, dapat digunakan teknik analisis product moment dari Karl Pearson.

REABILITAS TES


1.      Arti Realibilitas Bagi Sebuah Tes
            Adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang sama. Telah diterangkan dalam persyaratan tes, bahwa reabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempyunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian realibilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes.

            Sehubungan dengan realibilatas, Scarvia B. Anderson menyatakan bahwa persyaratan bagi tes, yaitu validitas dan ralibilitas ini penting. Dalam hal ini validitas adalh lebih penting, dan realibilitas ini perlu, karena menyongkong bentuknya validitas. Sebuah tes mungkin reliable tetapi tidak valid. Sebaliknya sebuah tes yang valid biasanya reliable.

            Banyak sekali. Namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 hal :
a.       Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir-butir soalnya
      Tes yang terdiri dari banyak butir tentu saja lebih valid di bandingkan dengan tes yang hanya terdiri dari beberapa butir soal. Tinggi rendahnya Validitas menunjukkan tinggi rendahnya Realibilitas tes. Dengan demikian semakin panjang tes, maka realibilitasinya semakin tinggi. Dalam menghitung sebuah realibilitas dengan menggunakan rumus Spearman-Brown.

b.      Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
      Suatu tes yang dicobakan kepada kelompok yang terdiri dari banyak siswa akan mencerminkan keragaman hasil yang menggambarkan besar kecilnya realibilitas tes. Tes yang dicobakan kepada bukan kelompok terpilih, akan menunjukan realibilitas yang lebih besar daripada yang di cobakan pada kelompok tertentu yang di ambil secara dipilih.

c.       Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes
      Faktor penyelenggaraan tes yang bersifat administratife sangat menentukan hasil tes. Adanya hal-hal yang mempengaruhi hasil tes ini semua, secara tidak langsung akan mempengaruhi realibilitas soal tes.

2.      Cara-Cara Mencari Besarnya Reabilitas
a.      Metode Bentuk Pararel (Equivalent)
      Adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat  kesukaran, dan susunan. Tetapi butir-butir soalnya berbeda.

b.      Metode Tes Ulang (test-retestmethod)
      Dilakukan untuk menghindari dua tes. Teknik metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tetapi di cobakan dua kali. Kemudian hasil dari tes tersebut dihitung korelasinya.

c.       Metode Belah Dua (split half method)
      Dalam menggunakan metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tes dan di cobakan satu kali. Pada waktu membelah dua dan mengkorelasikan dua belahan, baru diketahui realibilitas separo tes. Dengan memakai cara di bawah ini :
1.      Pembelehan Ganjil Genap
2.      Pembelahan Awal Akhir
3.      Penggunaan Rumus Flanagan
4.      Penggunaan Rumus Rulon
5.      Penggunaan Rumus K-R. 20
6.      Penggunaan Rumus K-R. 21
7.      Penggunaan Rumus Hayt

3.      Mencari Reabilitas Tes Bentuk Uraian
            Hanya meliputi uraian mengenai realibilitas tes bentuk objektif, yaitu soal yang terdiri dari butir butir soal yang dinilai hanya “benar” atau “salah”. Menilai soal bentuk uraian tidak dapat dilakukan seperti itu. Sesuatu butir soal uraian mwenghendaki gradualisasi penilaian. Untuk keperluan mencari realibilitas soal keseluruhan perlu juga dilakukan analisis butir soal seperti halnya soal bentuk objektif. Skor untuk masing masing butir soal dicantumkan pada kolom item menurut apa adanya. Dengan menggunakan rumus Alpha.